Pengakuan Mayor Alfredo

Namanya mencuat ketika terjadi kerusuhan di kota Dili, Timor Leste. Kerusuhan yang mengakibatkan 21 orang tewas dan 130 ribu penduduk mengungsi itu merupakan buntut dari bentrokan antara tentara yang marah dengan polisi yang mencoba mencegah mereka masuk kota.

Sekitar 600 tentara Timor Leste itu mengamuk sebab merasa selama ini mereka diperlakukan diskrimininatif karena berasal dari suku-suku di Barat negara itu. Sementara rekan-rekan mereka dari Timur diperlakukan lebih baik.

Mayor Alfredo Reinado, Komandan Polisi Militer yang mencoba menengahi pertikaian itu justru dituduh sebagai otak di belakang “pemberontakan” itu. “Padahal saya lahir justru karena peristiwa itu. Saya berusaha agar pertikaian internal tentara itu tidak meluas menjadi perang antar-etnis,” ujar Alfredo kepada Andy F. Noya yang mewawancarainya di suatu tempat yang dirahasiakan.

Alfredo saat ini menjadi buronan paling dicari di Timor Leste. Pemimpin negara yang baru merdeka itu, Xanana Gusmao dan Ramos Horta, secara terbuka meminta pasukan keamanan Australia untuk menangkap Mayor Alfredo hidup atau mati.

Alfredo mengaku Xanana mengkhianatinya. Pada saat dia dan pasukannya bertahan di markas polisi militer di atas gunung, Xanana mengimbau agar Alfredo menyerahkan senjata. Alfredo memenuhi imbauan itu dan turun ke Dili menyerahkan sejumlah senjata kepada pasukan Australia. “Karena saya mematuhi perintah presiden sebagai komandan tertinggi,” ujar pria berayah Portugis dan beribu asli Timor Leste ini.

Tapi pada saat itu dengan alasan masih menyembunyikan senjata, dia ditangkap dan dimasukan ke penjara. Belum dua bulan, Alfredo dan sejumlah anak buahnya berhasil melarikan diri. “Sebab upaya hukum saya selalu kandas dan saya dengar saya dan anak buah saya akan dihabisi. Kami menjadi mimpi buruk bagi Xanana dan Ramos Horta serta para politisi pecundang,” ujar Alfredo dengan suar bergetar.

Mengapa pria ganteng berusia 41 tahun ini menjadi “mimpi buruk”? “Karena Xanana dan Ramos Horta hendak menghidupkan faham komunis.”

Hampir setahun sudah Alfredo bersembunyi dari kejaran pasukan Australia. Beberapa bulan lalu perwira marinir ini nyaris tertangkap dalam sebuah serangan mendadak di daerah Same, 50 km dari Dili. Dalam serbuan yang dilakukan pasukan Australia menggunakan empat helikopter dan sejumlah mobil lapis baja itu, empat anak buah Alfredo tewas. Marinir yang pernah dilatih di Australia itu menghilang di hutan-hutan Timor Leste.

“Saya hanya akan turun gunung jika kasus saya diproses secara hukum. Saya belum pernah diputus bersalah oleh pengadilan. Jadi kalau saya dituduh buron, atas kesalahan apa?”

Soal tuduhan desersi juga dibantahnya. “Sampai detik ini belum ada surat pemecatan terhadap saya. Saya masih tentara dan masih komandan polisi militer. Anak buah saya tetap setia.”

Sebaliknya, Alfredo menuduh Xanana dan Ramos Horta sudah melenceng dari tujuan dan cita-cita kemerdekaan Timor Leste. “Xanana yang sekarang bukan Xanana yang dulu lagi,” ujar laki-laki yang menguasai enam bahasa dan pernah dipelihara oleh keluarga Bugis sejak usia sembilan tahun ini dengan suara masgul.

Karena itu, Alfredo menganggap suaranya akan lebih didengar jika dia bisa tampil di Kick Andy. Hanya di Kick Andy mantan tenaga bantuan operasional (TBO) tentara Indonesia ini bicara blak-blakan.

About these ads