Minggu ini banyak teman-teman saya mengirim SMS berantai tentang bahaya-nya nonton FTV yang katanya akan merusak Aqidah & Tauhid kita. FTV atau Film TeleVisi tersebut akan tayang pada tanggal 15 Desember 2007 di beberapa stasiun TV secara serentak.
Hal ini malah menjadi semacam iklan atau ajakan buat saya untuk nonton, penasaran, seheboh apa sih ampe banyak yang mengatakan bahayanya?

Saking penasarannya saya browsing eramuslim.com dan menemukan orang yang bertanya tentang hal tersebut. Kemudian dijawab oleh Pak Ahmad Sarwat secara gamblang.

Berikut tulisannya.
http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/7c12

003422-film-ftv-natal-kristenisasi.htm

Assalamualaikum

Ustad yang terhormat, saat ini di eramuslim ada berita dengan judul “Matikan TV Pada Sabtu, 15 Desember 2007 Sore!”, isinya mengajak umat Islam untuk tidak melihat film ini.

Untuk masalah ajakannya saya sendiri tidak mempermasalahkan dan mendukungnya, tetapi ada sesuatu yang mengganjal karena penulis menambahkan kalimat

“Atau bagi yang tetap penasaran menonton, sebaiknya jangan lepas dari wudhu selama menonton film ini agar terhindar dari ‘Kuasa Gelap’ dan dilindungi oleh Allah SWT”,

Kalimat tersebut menyiratkan ada “kekuatan gelap” yang akan menggoyahkan hati orang-orang Islam.

Bukankan kita sebagai orang Islam tidak perlu takut, karena Allah SWT yang akan melindungi orang-orang yang beriman. Apakah mungkin ritual khusus yang dilakukan untuk Film tersebut bisa mempan?

Menurut saya, sekarang mungkin malah banyak orang Islam yang penasaran ingin melihat Film tersebut, karena sudah diberitakan di eramuslim bahwaada sejenis Film di Indiaseperti yang akan diputar di stasiuntv di Indonesia telah berhasil memurtadkan jutaan orang-orang Hindu.

Menurut ustadz sendiri bagaimana sebaiknya?

Terima Kasih.

Faiz

Jawaban

Assalamu ‘alaaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Inilah problematika berat yang selalu saja dihadapi umat Islam. Maju kena dan mundur pun kena juga. Jadi serba salah. Diperingatkan salah tidak diperingatkan juga bisa salah.

Kalau memang benar informasi yang ditulis oleh entah siapa sumbernya dan kini beredar banyak di milis dan email termasuk di eramuslim, maka kita memang harus tanggap untuk menghindarinya. Tapi kalau kurang cermat menanggapinya, dan bahkan terkesan panik, justru ‘kepanikan’ kita malah bisa menjadi iklan murahan sekaligus ‘iklan gratisan’ buat film tersebut. Maka setiap orang justru penasaran untuk melihatnya.

Cobalah renungkan, bukakah selama ini tidak ada sebuah film di TV yang belum lagi diputar tapi sudah bikin heboh? Dan khususnya menghebohkan jagad dunia maya muslim Indonesia.

Kami sendiri sudah menerima peringatan ini dalam bentuk email, entah siapa yang mengirimnya, sejak lama. Saat membuka isi email itu, terus terang kami sama sekali tidak tertarik untuk membacanya, apalagi untuk melihat filmnya. Kesan yang muncul pertama, email ini memang sebuah iklan gratis.

Apalagi kami tidak pernah tertarik untuk menonton acara begituan di layar TV. Dan menurut hemat kami, umat Islam yang melek agama, pastilah tidak akan menontonnya. Ngapain nonton film begituan?

Efek Psikologis Peringatan

Satu hal yang jadi pertimbangan kita adalah kenyataan bahwa otak kita tidak bisa diperintah dengan terbalik, bisanya lurus.

Kita bisa melarang orang untuk tidak memakan suatu makanan. Tapi kita tidak bisa melarang orang untuk membayangkan makanan itu. Kita bisa bilang jangan minum khamar, tapi kita tidak bisa melarang orang membayangkan khamar.

Contoh lain, kalau kita larang seseorang untuk membayangkan gajah di dalam benaknya, apalagi dengan bombastis, maka orang itu justru malah akan membayangkan gajah di benaknya. Padahal kita sudah teriak-teriak, “Jangan bayangkan gajah, jangan bayangkan gajah.” Eh, ternyata orang itu malah membayangkan gajah di benaknya.

Kalau ada film heboh, lalu kita teriak-teriak, “Jangan tonton, jangan tonton.”
Maka yang terjadi orang malah antri mau nonton. Itulah aspek psikologis karakter penonton kita. Dan kita tidak mau orang malah jadi menonton film itu justru karena peringatan dari kita.

Unsur Magis

Terus terang kami 100% tidak percaya kalau dikatakan film itu mengandung unsur magis atau sudah dirasuki setan, sehingga yang melihatnya akan kemasukan setan dan jadi tersesat.

Dan kalau kita cermati, tanpa harus dilakukan penyusupan setan secara ghaib di film itu pun, sebenarnya nyaris semua acara TV di negeri kita sudah berisi ‘setan’ yang sesat dan menyesatkan.

Cobalah bayangkan, bukankah infotainment yang isinya zina, cerai, selingkuh, mabuk, ditangkap karena narkoba atau pejabat yang ketahuan berzina di hotel merupakan acara yang sesat dan menyesatkan? Tapi kok malah tetap ditonton? Ini kan namanya sihir yang nyata.

Bukankah acara film dan sinetron yang isinya remaja SMP dan SMU berzina, pacaran, selingkuh merupakan acara yang sesat dan menyesatkan? Tapi yang nonton semakin hari semakin banyak. Bukankah ini juga merupakan bentuk sihir abad 21?

Bukankah film setan, horor, hantu dan ilmu-ilmu ghaib bukan program yang sesat dan menyesatkan? Bukankah semua itu berisi nilai-nilai yang penuh madharat serta merusak fikrah dan aqidah? Tapi kenapa orang-orang tetap setia menontonnya sampai subuh? Bukankah ini juga bentuk sihir?

Bagaimana tidak sesat kalau pogram sampah seperti itu setiap hari diputar, sejak adzan shubuh berkumandang sampai terbit matahari lagi, isinya cuma urusan syirik, fitnah dan maksiat?

Sebuah sinetron sebenarnya sudah dianggap merasuki setan dan mengadung ‘sihir’, ketika para pemirsanya bisa dibuat tidak mau beranjak dan merasakan ketergantungan untuk selalu terus menonton. Padahal isinya cuma berputar-putar tidak jelas, apalagi sepanjang sinetron itu tidak pernah sepi dari maksiat, pacaran, zina, hamil di luar nikah, fitnah, perpecahan keluarga, anak yang memaki ayah dan ibunya dan segudang kesesatan parah lainnya.

Jelaslah sinetron seperti itu merupakan sihir abad 21, yang sebenarnya jauh lebih parah dan lebih berat dari pada sekedar menonton film misionaris.

Peringatan Tetap Dibutuhkan, Tetapi…

Tapi lepas dari semua itu, kita ucapkan terima kasih atas peringatan yang diberikan. Sebenarnya sebagai muslim yang baik, tanpa harus diberi peringatan pun pasti kita sudah tidak akan menonton acara yang isinya hanya kegiatan dan ajakan misionaris. Apalagi kalau isinya sesat dan menyesatkan.

Hanya yang perlu kita cermati adalah efek heboh yang sebenarnya malah menjadi kampanye terselubung. Dan agaknya sisi ini tidak salah kalau kita pertimbangkan. Mengingat karakteristik para masyarakat pemirsa dan konsumen kita suka latah dan penasaran kepingin tahu.

Misalnya, ada berita di suatu kampung ada kucing berkaki tiga. Lalu tiba-tiba orang berduyun-duyung datang untuk sekedar menonton. Maka si kucing berkaki tiga pun ngetop di seantero jagad raya. Bahkan masuk TV segala.

Terus, kemarin Indonesia dihebohkan dengan terbitnya majalah Playboy Indonesia. Beragam caci maki dilontarkan kepada penerbitnya. Tapi di sisi lain, penjualan majalah ini pun sukses besar karena langsung ludes dibeli orang. Padahal sebelumnya sudah banyak majalah yang lebih porno dari Playboy beredar di pinggir jalan dan dijual bebas. Tidak ada yang beli. Tapi begitu pakai nama Playlboy, langsung balik modal dan untung besar.

Jadi yang harus kita waspadai adalah efek domino dari peringatan ini. Jangan semakin kita hebohkan, yang nonton malah semakin banyak. Akibatnya, peringatan yang kita buat malah menjadi iklan gratis atas film ini.

Padahal mimbar agama Islam yang diputar subuh di beberapa TV kita, nyaris sepi dan tidak ada yang nonton. Sungguh sangat ironis bukan?

Apakah TV Haram?

Mungkin nanti ada yang bertanya, kenapa tidak kita haramkan saja televisi? Kan isinya kemungkaran semua.

Kita masih perlu diskusi lagi untuk masalah ini, dan bukan kita harus mengharamkan total dari menonton TV. Hanya saja secara tidak langsung, semakin kita banyak menonton TV, kita harus semakin cerdas untuk memilah dan memilih.

Sebagai muslim kita harus punya filter ganda untuk bisa dengan sehat aqidah dan sehat fikrah menonton televisi. Sebab TV kita ini sudah kebanyakan racunnya dari pada gizinya. Ibarat orang makan kepiting rebus, kebanyakan tulang, kulit dan durinya dari pada dagingnya. Untuk memakannya agak merepotkan.

Dan mengharamkan TV tidak sesederhana itu memang. Sebab semakin diharamkan, maka orang akan semakin banyak nonton. Kembali kepada teori psikologis konsumen di atas.

Terus Apa?

Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana umat Islam yang konon ada 200 juta di negeri ini bisa memproduksi tayangan TV yang bermanfaat, bebas syirik dan maksiat.

Kalau untuk memiliki stasiun TVsendiri masih ilusi, setidaknya kita harus bisa membuat program tayangan TV sekaligus pemasang iklannya. Atau setidaknya ada dana wakaf umat untuk kita bisa membeli slot di jaringan TV swasta dan pemerintah. Jadi bisa tampil tanpa iklan.

Tapi biasanya, kalau diskusi sudah sampai di sini, maka para tokoh muslim akan terdiam, suasana akan hening. Karena dari dulu tidak pernah ada yang terealisasi dari program yang masih berupa mimpi itu.

Terus terang saja, kita selama ini lebih suka bikin ormas atau bikin partai dari pada memikirkan sudut yang satu ini. Padahal kita semua sudah ber-ijma’ bahwa media massa adalah wilayah yang mutlak harus dimiliki demi tegaknya dakwah Islam. Tapi sekian ormas dan partai Islam yang anggotanya menjejali gedung wakil rakyat, tidak satu pun yang sudah merealisasikan program ini.

Kalau ditanya mengapa, jawabannya klasik sekali, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Capek deh!

Hikmah

Hikmah yang bisa kita petik dari rencana kalangan misionaris memutar film itu di TV adalah ini merupakan sebuah cambuk buat kita umat Islam. Pertanyaannya sederhana, apa yang sudah kita kerjakan di dunia pers, khususnya televisi?

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc