16 Desember lalu, saya diajak teman survey untuk acara rihlah (rekreasi). Pilihannya ada dua, yaitu Dieng dan Bandungan. Dieng menempuh jarak kurang lebih 3-4 jam dari Jogja, sedangkan Bandungan 2-3 jam. Ridl kebetulan bertempat tinggal dekat dengan Bandungan, tepatnya di Kecamatan Banyubiru, sebelah selatan Ambarawa. Maka diputuskan untuk menilik Bandungan sekaligus Candi Gedong Songo yang letaknya berdekatan.

 

Dudut sekali saya bisa kelupaan bawa STNK, untung Ridl baik hati memboncengkan saya dan bersedia motornya dipinjem buat pulang (ke jogja).

Minggu sore sekitar pukul 16.00 kami baru sampai ke gerbang Gedong Songo. Bandungan yang penuh sesak menjadi penyebab molornya perjalanan. Satu, hari Minggu dijejali umat Kristiani yang melakukan kebaktian. Dua, Grasstrack atau balap motorcross bikin jalanan semakin macet. Ada yang dudut lagi, Polisi yang berjaga disitu cuman “tholo-tholo” atau diam aja gak mau ngatur lalu-lintas yang semrawut.

 

Sebelum pergi ke Gedong Songo, sebaiknya servis/tuning-lah kendaraan anda, sebab tanjakan disini terjal. Walaupun sudah diaspal, kemiringan yang mencapai 40º akan menyulitkan jika kondisi kendaraan tidak bagus.

 

Tiket masuk objek wisata Gedong Songo Rp. 3100,- parkir motor Rp. 2000,-. Tidak umum kan? Emang seharusnya parkir disini cuman Rp. 1000,- tapi tukang parkirnya maruk (nyebahi). Menurut informasi, suhu udara Gedong Songo mencapai 19o C, itu wajar sebab disana berketinggian 1200 m dpl.

Pinus dan cemara seakan menyambut kami ketika melewati jalan paving menuju candi pertama. Disebelah timur pintu masuk ada taman bermain, penginapan dan rumah makan.

Bagi yang tertarik, banyak pawang-pawang kuda yang menawarkan untuk mengantar anda keatas menggunakan kuda. Tarifnya belum jelas (soalnya kami memutuskan untuk jalan kaki). Makanya jangan heran jika menemukan “ranjau darat” alias tai kuda disekitar jalan.

Capek ketika naik tidak akan terasa tatkala melihat pemandangan sekitar yang elok. Jangan khawatir bila lapar atau haus, karena banyak warung serta penjaja makanan dikiri-kanan maupun sekitar candi. Total ada sembilan candi, termasuk satu yang runtuh. Ntah apa sebabnya candi yang kesembilan (yang paling atas) runtuh rata dengan tanah.

O iya, sebelum menuju candi ke-tujuh, ada pemandian air panas serta mata air panas di bagian lembah kompleks candi gedong songo. Tempatnya tidak luas namun cukup untuk menampung wisatawan yang beingin menghangatkan badan. Untuk masuk pemandian ini, kami harus merogoh kocek Rp. 2000,-. Dasar kami orangnya hemat, cermat dan bersahaja (baca=pelit) makanya tidak masuk. Dua ribu mending buat urunan bensin katanya hehehehe…

 

Matahari hampir tenggelam, kamipun turun bukit sesegera mungkin, takut kemaleman. Ekspedisi kami berakhir pukul 18.00 untuk kemudian beristirahat di rumah Ridl.